Desa Penggok,Gunakan Mata Air Ciptakan APBD 6,4 M Pertahun

SPIONNEWS, Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, tidak memiliki tambang emas. Tidak ada kawasan industri besar yang dipenuhi pabrik. Perubahannya juga bukan dimulai dari kedatangan investor asing yang membawa modal besar. Kekuatan yang mengubah arah desa ini justru sudah tersedia sejak lama, berupa sejumlah mata air jernih yang terus mengalir di wilayah Ponggok.

Selama bertahun-tahun, sumber air tersebut digunakan warga untuk mandi, mencuci, mengairi sawah, dan memelihara ikan. Tidak ada yang istimewa karena mata air itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, sesuatu yang terlihat biasa dapat berubah menjadi sangat bernilai ketika dipandang dan dikelola dengan cara berbeda.

Ketika Junaedi Mulyono mulai memimpin Ponggok sekitar 2006–2007, kondisi desa masih jauh dari sebutan makmur. Pendapatan desa terbatas, kesempatan kerja belum banyak, dan sebagian warga memilih mencari penghidupan di luar daerah. Pemerintah desa tidak mewarisi perusahaan besar atau sumber pendapatan yang langsung menghasilkan uang.

Yang tersedia hanyalah sumber daya yang selama ini dianggap biasa karena terlalu dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, perubahan tidak langsung dimulai dengan membangun tempat wisata atau mengeluarkan anggaran besar. Pemerintah desa lebih dahulu berusaha memahami apa yang sebenarnya dimiliki Ponggok.

Sumber daya alam, kemampuan warga, kondisi pekerjaan, pendidikan, kemiskinan, serta kekuatan ekonomi desa mulai dipetakan. Proses tersebut melibatkan masyarakat dan mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Dari data itulah pemerintah desa mulai menentukan arah pembangunan yang sesuai dengan keadaan Ponggok.

Langkah ini menjadi dasar penting karena Ponggok tidak memilih usaha hanya berdasarkan tren. Desa tidak buru-buru meniru daerah lain yang sedang berhasil. Mereka berusaha menemukan kekuatan yang benar-benar tumbuh dari wilayah sendiri dan memiliki peluang untuk dikembangkan dalam jangka panjang.

Cara seperti ini terdengar sederhana, tetapi sering dilewatkan. Banyak desa tergoda meniru tempat lain hanya karena melihat sebuah objek wisata ramai dikunjungi. Gapura kemudian dibangun, tempat berfoto dibuat, dan anggaran promosi dikeluarkan. Namun, karena tidak berangkat dari potensi nyata dan kebutuhan pasar, tempat tersebut perlahan sepi setelah rasa penasaran masyarakat menghilang.

Ponggok mengambil jalan yang berbeda. Desa tidak mencari sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi membesarkan kekuatan yang memang telah lama dimiliki. Dari proses itulah mata air yang semula hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dipandang sebagai aset ekonomi desa.

Pada Desember 2009, Pemerintah Desa Ponggok mendirikan BUMDes Tirta Mandiri. Badan usaha ini menjadi alat bagi desa untuk mengelola aset serta mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi. Unit usahanya tidak hanya bergerak di bidang wisata, tetapi juga perikanan, pengelolaan air bersih, perdagangan, kuliner, dan sejumlah layanan lainnya.

Meski memiliki beberapa unit usaha, Umbul Ponggok menjadi yang paling dikenal luas. Sebelumnya, umbul tersebut hanyalah mata air yang digunakan warga untuk mandi, mencuci, dan kegiatan budidaya ikan. Dasarnya berupa pasir serta bebatuan alami, sedangkan airnya terus berganti karena mengalir langsung dari sumber.

Kondisi itu kemudian dikembangkan menjadi tempat wisata air. Kawasan dibersihkan dan ditata, fasilitas diperbaiki, sementara kegiatan berenang, menyelam, dan snorkeling mulai diperkenalkan. Namun, terobosan yang benar-benar membuat Umbul Ponggok berbeda dari tempat lain adalah konsep foto bawah air.

Pengunjung dapat berfoto di dasar umbul bersama sepeda motor, sepeda kayuh, kursi, televisi, dan berbagai properti unik lainnya. Pemandangan yang tidak biasa tersebut cepat menyebar melalui media sosial. Orang-orang akhirnya datang bukan hanya untuk berenang, tetapi juga mencari pengalaman serta gambar yang sulit didapatkan di tempat lain.

Dari sini terlihat bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol. Terkadang, aset lama hanya perlu diberi fungsi baru, dikelola dengan lebih baik, lalu dikemas sesuai dengan perubahan kebiasaan masyarakat. Mata air Ponggok tetap sama, tetapi pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung telah berubah.

Perubahan itu kemudian meningkatkan pendapatan BUMDes. Pada 2015, Tirta Mandiri dilaporkan memperoleh pendapatan sekitar Rp 6,4 miliar. Pada periode berikutnya, sejumlah laporan menyebut pendapatan usahanya pernah mencapai sekitar Rp 14,2 miliar dalam setahun.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena omzet BUMDes, keuntungan bersih, Pendapatan Asli Desa, dan nilai aset adalah ukuran yang berbeda. Semuanya tidak dapat dicampurkan hanya untuk menciptakan kesan bahwa Ponggok menghasilkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Namun, tanpa membesar-besarkan angka pun, perubahan ekonomi desa sudah terlihat jelas.

Keberhasilan Ponggok tidak hanya datang dari banyaknya tiket wisata yang terjual. Dampak yang lebih penting justru muncul ketika kegiatan ekonomi di sekitar Umbul Ponggok ikut tumbuh. Warga mulai membuka warung, menjual makanan, menyediakan penginapan, menyewakan perlengkapan renang, menjadi fotografer bawah air, mengelola parkir, hingga bekerja di berbagai bagian usaha desa.

Dengan pola seperti itu, kedatangan wisatawan tidak hanya memperbesar pendapatan pengelola. Uang yang dibawa pengunjung juga berputar di lingkungan masyarakat. Warga tidak sekadar melihat rombongan wisatawan melewati rumah mereka, tetapi mendapatkan kesempatan untuk ikut mengambil peran dalam kegiatan ekonomi yang tumbuh.

Inilah perbedaan antara wisata yang hanya berdiri di sebuah desa dan wisata yang benar-benar memberi manfaat bagi desa. Sebuah tempat dapat terlihat ramai, tetapi belum tentu membuat masyarakat sekitar sejahtera. Bisa saja lahan desa digunakan, jalan kampung dipadati kendaraan, dan sampah bertambah, sementara keuntungan terbesarnya justru dibawa keluar.

Ponggok berusaha mencegah keadaan seperti itu dengan menempatkan warga sebagai bagian dari perkembangan usaha. Masyarakat bahkan pernah dilibatkan melalui penyertaan modal dalam pengembangan BUMDes. Dengan demikian, warga tidak hanya menjadi pekerja atau pedagang, tetapi ikut memiliki kepentingan terhadap keberlanjutan badan usaha tersebut.

Pendapatan yang diperoleh desa kemudian digunakan untuk mendukung berbagai program masyarakat. Salah satu yang paling dikenal adalah program Satu Rumah Satu Sarjana, yaitu bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa asal Ponggok. Program ini tidak hanya menjadi bentuk pembagian hasil usaha, tetapi juga bagian dari investasi jangka panjang desa.

Pilihan untuk membiayai pendidikan memiliki alasan yang kuat. Wisata mungkin dapat mendatangkan pengunjung hari ini, tetapi desa tetap membutuhkan orang-orang yang memahami keuangan, pemasaran, teknologi, hukum, pelayanan, dan pengembangan usaha. Tanpa kemampuan tersebut, Ponggok akan terus bergantung pada tenaga dari luar.

Karena itu, pendidikan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan. Desa tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga berusaha menyiapkan generasi yang kelak mampu mengelola asetnya sendiri. Dari sinilah terlihat bahwa Ponggok tidak sekadar membangun tempat wisata, melainkan sebuah sistem ekonomi yang saling terhubung.

Sistem tersebut dimulai dari aset desa yang dipetakan, kemudian dikelola melalui BUMDes. Kegiatan usaha menghasilkan pendapatan, menciptakan pekerjaan, mendorong usaha warga, lalu sebagian manfaatnya dikembalikan untuk memperkuat masyarakat melalui pendidikan dan berbagai program sosial.

Meski demikian, keberhasilan Ponggok tidak boleh disederhanakan seolah-olah semuanya terjadi karena satu orang. Junaedi Mulyono memang memiliki peran penting dalam menentukan arah perubahan, tetapi BUMDes dijalankan oleh banyak pihak. Ada perangkat desa, pengelola usaha, pekerja, masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah yang ikut terlibat.

Hal ini penting karena desa tidak boleh bergantung sepenuhnya pada satu pemimpin. Kepala desa dapat berganti, tren wisata dapat berubah, jumlah pengunjung bisa menurun, dan pengelola dapat menghadapi tantangan baru. Karena itu, yang harus dijaga bukan hanya nama besar seseorang, tetapi sistem yang telah dibangun.

Sistem tersebut mencakup kemampuan pengelola, aturan yang jelas, pencatatan keuangan, pembagian manfaat, dan pengawasan masyarakat. BUMDes bukan perusahaan pribadi kepala desa. Modalnya berasal dari kekayaan desa, sehingga hasilnya harus digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Semakin besar uang yang dikelola, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi. Pemilihan pengurus harus berdasarkan kemampuan, bukan sekadar kedekatan. Keuangan perlu dicatat dengan rapi, setiap unit usaha harus memiliki pasar, pelayanan perlu dijaga, dan hasilnya harus dievaluasi secara berkala.

Banyak BUMDes gagal bukan karena desanya tidak mempunyai potensi. Sebagian gagal karena usaha dibentuk hanya untuk menjalankan program atau menghabiskan anggaran. Ada pula yang meniru usaha desa lain tanpa memahami kebutuhan pasar dan kemampuan masyarakatnya sendiri.

Akhirnya, bangunan berdiri dan papan nama terpasang, tetapi kegiatan ekonominya tidak pernah benar-benar hidup. Modal terus berkurang, pengurus saling menyalahkan, sementara warga tidak merasakan manfaat apa pun.

Ponggok memberi pelajaran bahwa BUMDes harus dijalankan seperti badan usaha yang serius. Ia membutuhkan orang yang mampu mengelola, produk yang dibutuhkan pasar, pelayanan yang baik, strategi pemasaran, serta laporan keuangan yang dapat diperiksa. Perbedaannya, tujuan akhirnya bukan hanya mencari keuntungan, tetapi menciptakan manfaat sosial bagi masyarakat.

Keberhasilan Ponggok kemudian menarik perhatian nasional. Banyak pemerintah desa datang untuk mempelajari pengelolaan wisata, pemetaan potensi, pengembangan BUMDes, hingga pemanfaatan pendapatan untuk program sosial.

Pada Januari 2026, Junaedi Mulyono terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP APDESI untuk masa bakti 2026–2031. Ia kemudian dilantik pada Februari 2026. Terpilihnya kepala desa dari Ponggok menunjukkan besarnya pengakuan terhadap pengalaman pengelolaan desa yang telah dibangun selama beberapa periode.

Namun, keberhasilan Ponggok bukan berarti semua desa harus membangun wisata air. Model tersebut tidak dapat disalin mentah-mentah karena setiap daerah memiliki keadaan, sumber daya, dan pasar yang berbeda.

Tidak semua desa memiliki mata air sejernih Umbul Ponggok. Tidak semua wilayah cocok dikembangkan sebagai tujuan wisata. Desa pesisir, pertanian, perkebunan, peternakan, dan pegunungan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda.

Desa penghasil kopi mungkin lebih tepat membangun usaha pengolahan dan merek bersama. Desa peternakan dapat mengembangkan pakan, pembibitan, atau pengolahan hasil ternak. Sementara itu, desa pertanian mungkin lebih membutuhkan gudang, penggilingan, pasar bersama, atau badan usaha yang mampu memotong rantai distribusi.

Hal yang dapat ditiru dari Ponggok bukan bentuk usahanya, melainkan cara berpikirnya. Desa perlu mengetahui aset yang dimiliki, memahami kebutuhan pasar, menyiapkan orang yang mampu mengelola, lalu memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Indonesia memiliki lebih dari 84 ribu wilayah administrasi setingkat desa dan kelurahan. Di dalamnya terdapat sawah, laut, mata air, hutan, kebun, peternakan, kerajinan, makanan khas, budaya, dan berbagai kemampuan warga. Namun, banyaknya sumber daya tersebut tidak otomatis membuat sebuah desa menjadi makmur.

Mata air dapat tetap menjadi kolam biasa. Hasil kebun dapat terus dijual sebagai bahan mentah. Kerajinan hanya menjadi pekerjaan sampingan. Budaya lokal hanya tampil ketika ada perayaan tahunan. Potensi baru berubah menjadi kekuatan ekonomi ketika dikelola dengan data, pengetahuan, keberanian, dan tata kelola yang benar.

Ponggok juga menunjukkan bahwa bekerja sama dengan pihak luar tidak harus berarti menyerahkan kendali. Desa tetap membutuhkan akademisi, pemerintah, teknologi, permodalan, dan jaringan pasar. Namun, pihak luar seharusnya ditempatkan sebagai mitra, bukan sebagai pemilik tunggal atas aset dan masa depan desa.

Dari sebuah mata air, Ponggok membangun wisata. Dari wisata, tumbuh BUMDes. Dari BUMDes, lahir pekerjaan, usaha warga, bantuan pendidikan, dan berbagai program sosial. Perubahan tersebut tidak dimulai dari uang dalam jumlah besar, tetapi dari keberanian melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Inilah pelajaran utama dari Ponggok. Desa mandiri bukan berarti menolak bantuan atau menutup diri dari kerja sama. Desa mandiri adalah desa yang mengetahui kekuatannya, mampu mengelola asetnya, mempunyai sumber pendapatan, dan tidak menyerahkan seluruh masa depannya kepada keputusan pihak lain.

Sebab desa kaya bukan hanya desa yang memiliki kas besar. Desa kaya adalah desa yang warganya memperoleh pekerjaan, anak mudanya memiliki harapan, usaha kecilnya ikut berkembang, pendidikan masyarakatnya meningkat, dan asetnya tetap memberi manfaat bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Ponggok memang dikenal karena kejernihan airnya. Namun, yang membuatnya menjadi contoh bukan semata-mata mata air tersebut, melainkan keberanian masyarakat dan pemerintah desa dalam mengelolaan.

Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *