KSOP Baubau Harapkan Nelayan dan Kapal Penumpang Punya Dokumen dan Alat Penyelamatan

“SOSIALISASI KESELAMATAN PELAYARAN KSOP BAUBAU: TEKANKAN LATIHAN PRAKTIK, LENGKAPKAN DOKUMEN DAN TINDAKLANJUTI PERTANYAAN MASYARAKAT”

KOTA BAUBAU, 26 Agustus 2026 — Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Baubau yang saat ini dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Saaduddin, S.T., M.M., menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Keselamatan Pelayaran bagi para nelayan, pemilik kapal tradisional, dan pelaku angkutan penumpang di wilayah Kabupaten Buton dan sekitarnya. Kegiatan ini dirancang berlangsung selama dua hari agar peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan serta pendampingan pengurusan dokumen kapal.

📢 Laut Sumber Kehidupan, Keselamatan Tanggung Jawab Bersama

Dalam arahannya, Plt. Kepala KSOP Baubau Saaduddin menegaskan bahwa laut bukan sekadar jalur transportasi atau sumber ekonomi, melainkan ruang kerja yang harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan dan kepatuhan terhadap aturan.

“Melaut adalah baik, baik sebagai sarana transportasi maupun untuk mencari sumber penghidupan. Namun di samping penghasilan dari laut itu, ada hal yang jauh lebih penting: keselamatan pelayaran. Keselamatan pelayaran adalah tanggung jawab kita bersama. Kita harus menjaga dan memperhatikan kondisi kapal, baik dari segi badan kapal, kondisi mesin, hingga kelengkapan alat-alat keselamatan,” ungkap beliau.

Beberapa hal teknis yang ditekankan:

  • ✅ Kondisi badan kapal — pastikan tidak ada kebocoran atau kerusakan struktur
  • ✅ Perawatan mesin — rutin diperiksa sebelum berlayar
  • ✅ Alat keselamatan — jaket pelampung, pelampung bundar, dan peralatan penolong lain harus tersedia cukup dan siap pakai
  • ✅ Jangan muat berlebihan — penumpang maupun barang tidak boleh melebihi kapasitas yang ditetapkan

Satu pesan utama yang terus digaungkan: menunda keberangkatan saat cuaca buruk bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap nyawa dan harta benda.

“Jika memang gelombang dan angin tidak memungkinkan, jangan dipaksakan. Memaksakan berlayar di cuaca buruk adalah mengambil risiko yang tidak perlu,” tegas Saaduddin.

📅 Dua Hari Kegiatan: Teori, Praktik, dan Pendampingan Dokumen

Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama dua hari dengan tujuan agar materi tidak hanya sekadar seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan nyata para pelaku pelayaran.

“Saya harap Bapak-Bapak dapat mengikuti acara ini dengan sungguh-sungguh. Kegiatan akan berlangsung dua hari agar kita bisa melakukan praktik lapangan sekaligus pendampingan pengurusan perlengkapan dan dokumen kapal, baik bagi nelayan maupun pemilik kapal penumpang berukuran besar,” jelas Saaduddin.

❗ Pertanyaan Masyarakat: Dokumen Kapal yang Belum Tuntas

Pada sesi diskusi, muncul pertanyaan dari Ilyas, salah satu pemilik kapal penumpang, yang menyampaikan kendala pengurusan dokumen kapal.

“Kami sudah mengajukan pengurusan dokumen kapal beberapa waktu lalu. Namun dari 32 kapal yang mengusulkan, baru 10 kapal yang dokumennya keluar. Bagaimana dengan yang 22 kapal lainnya?” tanya Ilyas mewakili rekan-rekan pemilik kapal.

✅ Langkah Tindak Lanjut: Pengecekan Ulang dan Pengukuran Kapal

Merespons hal tersebut, pihak KSOP Baubau langsung memberikan tanggapan positif dan komitmen untuk menindaklanjuti secara transparan.

“Kami akan langsung mengecek kembali dan melakukan pengecekan silang (kroscek) terhadap berkas-berkas tersebut. Yang belum keluar akan kami identifikasi kendalanya, dan selanjutnya akan kami jadwalkan pengukuran kapal secara bertahap agar dokumen bisa segera diproses,” jawab pihak KSOP di hadapan peserta sosialisasi.

Respons ini disambut baik oleh para peserta, yang berharap proses administrasi dokumen kapal dapat semakin transparan, cepat, dan tidak membebani masyarakat.

💡 Penutup

“Laut adalah sumber kehidupan kita, bukan musuh kita. Jika kita menghormati laut dan mematuhi aturan keselamatan, laut akan memberikan berkah yang berkelanjutan bagi kita semua,” pungkas Saaduddin.

Dengan kegiatan dua hari ini, diharapkan semakin banyak kapal di wilayah perairan Buton yang tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga lengkap dokumennya, sehingga pelayaran menjadi lebih aman, tertib, dan terlindungi secara hukum. (Ha)

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *