SPIONNEWS.ID, BADUNG, BALI – Rangkaian studi empiris 31 mahasiswa Pascasarjana Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau di Kabupaten Badung, Bali, tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik dan kunjungan kelembagaan. Para mahasiswa bersama dosen pendamping juga menyempatkan diri menikmati kekayaan seni dan budaya Bali dengan menyaksikan secara langsung pagelaran Tari Kecak Bali.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan suka cita. Setelah mengikuti berbagai agenda studi empiris, mahasiswa dan dosen bersama-sama menikmati pertunjukan seni tradisional Bali yang menjadi salah satu ikon budaya Pulau Dewata.

Suasana semakin menarik ketika puluhan penari tampil membentuk lingkaran dengan gerakan yang dinamis sambil meneriakkan suara khas “cak, cak, cak” secara berirama. Pertunjukan tersebut tidak menggunakan gamelan sebagai pengiring utama, melainkan mengandalkan paduan suara para penari serta gerakan tubuh yang membentuk suasana teatrikal.

Bagi para mahasiswa Pascasarjana Unidayan, menyaksikan Tari Kecak secara langsung menjadi pengalaman empiris yang memberikan perspektif berbeda. Studi tidak hanya diperoleh melalui ruang kelas, diskusi dan kunjungan pemerintahan, tetapi juga melalui pengalaman melihat secara langsung bagaimana kebudayaan lokal dipelihara, dikembangkan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus daya tarik pariwisata.

Sinopsis Cerita Tari Kecak
Pagelaran Tari Kecak yang disaksikan para mahasiswa mengangkat kisah yang bersumber dari Ramayana, khususnya cerita tentang perjuangan Rama menyelamatkan istrinya, Dewi Sinta, yang diculik oleh Rahwana, Raja Alengka.
Cerita bermula ketika Rama, Sinta dan adiknya, Laksmana, berada di tengah hutan. Sinta kemudian tertarik pada seekor kijang emas yang sebenarnya merupakan jelmaan dari Marica, anak buah Rahwana. Rama mengejar kijang tersebut, sementara Laksmana kemudian menyusul Rama setelah mendengar suara yang dianggap sebagai suara Rama meminta pertolongan.
Dalam keadaan tersebut, Rahwana memanfaatkan kesempatan untuk menculik Sinta dan membawanya ke Kerajaan Alengka.
Rama kemudian berusaha menemukan dan menyelamatkan Sinta. Dalam perjalanan, Rama mendapatkan bantuan dari pasukan kera yang dipimpin Hanoman. Hanoman kemudian pergi ke Alengka untuk mencari keberadaan Sinta dan menyampaikan pesan Rama.
Konflik mencapai puncaknya ketika terjadi peperangan antara pasukan Rama dan pasukan Rahwana. Dengan bantuan para sekutunya, Rama akhirnya berhasil mengalahkan Rahwana dan menyelamatkan Dewi Sinta.
Dalam pertunjukan Kecak, kisah tersebut divisualisasikan melalui gerakan para penari, ekspresi tokoh-tokoh cerita, serta suara kolektif puluhan penari yang mengucapkan “cak” secara berulang dan ritmis.
Belajar Budaya dari Pengalaman Langsung
Menyaksikan Tari Kecak secara langsung memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa Pascasarjana Unidayan. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai bagaimana seni tradisional dapat dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan keterkaitan erat antara budaya, pariwisata, masyarakat dan tata kelola daerah. Kebudayaan yang dikelola dengan baik dapat menjadi identitas daerah sekaligus memiliki nilai ekonomi melalui sektor pariwisata.
Di tengah kesibukan agenda studi empiris, kegiatan menonton Tari Kecak juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara mahasiswa dan dosen.
Canda, tawa dan kekaguman terhadap pertunjukan budaya Bali menciptakan suasana yang hangat dan bersahaja. Tidak ada sekat antara dosen dan mahasiswa. Semuanya larut dalam suasana kebersamaan, menikmati pertunjukan seni yang sarat dengan nilai budaya dan filosofi kehidupan.
Bagi 31 mahasiswa Pascasarjana Unidayan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan studi empiris di Bali. Mereka membawa pulang bukan hanya pengetahuan akademik mengenai tata kelola pemerintahan dan pembangunan daerah, tetapi juga pengalaman berharga tentang bagaimana kearifan lokal dan kebudayaan dapat menjadi kekuatan dalam membangun daerah.
Studi empiris akhirnya tidak hanya berbicara tentang apa yang dipelajari di ruang-ruang pemerintahan, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa mampu melihat, merasakan dan memahami kehidupan masyarakat serta kebudayaan secara langsung.
Dari Baubau ke Badung, dari ruang akademik menuju pengalaman nyata—belajar, melihat, merasakan dan membangun kebersamaan.
Editor: Rusly, S.Mn.

