SPIONNEWS.ID, NIIGATA – Perayaan Idul Fitri selalu menjadi momen paling berkesan dan penuh kebahagiaan bagi umat Muslim setelah sebulan menjalani ibadah puasa. Namun, suasana berbeda dirasakan oleh seorang diaspora Indonesia bernama Ezlan yang merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman, tepatnya di Jepang.
Pada 21 Maret 2026, ia untuk pertama kalinya melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Annur Niigata, yang berada di Prefektur Niigata. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga, meskipun nuansanya jauh berbeda dibandingkan perayaan di kampung halamannya di Desa Napa, Kabupaten Buton Tengah.
Perbedaan itu terasa jelas, mulai dari keterbatasan jumlah umat Muslim karena Islam merupakan agama minoritas di Jepang, hingga perjalanan menuju masjid yang cukup panjang. Jika di kampung halaman ia hanya perlu berjalan kaki, di Niigata ia harus menggunakan bus dan dilanjutkan dengan kereta untuk bisa sampai ke lokasi salat Id.
Setibanya di masjid, suasana sudah dipadati jamaah. Ia pun harus mengantre untuk mengisi saf kosong, mengingat pelaksanaan salat dilakukan dalam beberapa kloter.
Meski demikian, ibadah tetap berlangsung khidmat dan lancar.
Momen menarik terjadi saat khutbah Idul Fitri. Sosok imam sekaligus penceramah mencuri perhatian dengan mengenakan sarung tenun dan kampurui khas Buton berwarna kuning mencolok yang berkilau. Penampilan tersebut tidak hanya mencerminkan identitas budaya yang kuat, tetapi juga menghadirkan nuansa kedekatan bagi sesama perantau asal Sulawesi.
Rasa penasaran pun mendorongnya untuk menyapa sang imam usai salat. Pertemuan tersebut berlangsung hangat, diawali dengan perkenalan, foto bersama, hingga perbincangan ringan khas anak rantau. Dari percakapan itu terungkap bahwa sang imam bernama Zukarli berasal dari Batuatas Liwu, Kecamatan Batuatas, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara—daerah yang memiliki kedekatan dengan asalnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi momen berharga yang mempererat tali silaturahmi antar diaspora Indonesia di Jepang, khususnya di wilayah Niigata. Kehadiran unsur budaya seperti sarung tenun dan kampurui khas Buton juga menjadi pengingat bahwa identitas kedaerahan tetap dapat dijaga dan dibanggakan, meskipun berada jauh dari tanah kelahiran.
Di akhir perayaan, ia berharap seluruh umat Muslim senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran, serta dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun mendatang. Aamiin. (LN)

