SPIONNEWS, BAUBAU— Rangkaian ritual adat tradisional Pulau Makassar yang melintas dari darat hingga laut kembali dihidupkan masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti kesadaran kolektif untuk menjaga marwah negeri serta warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.
Ketua Lembaga Adat Liwuto Makasu, DiArmudin, menjelaskan bahwa seluruh prosesi berjalan berkesinambungan. Ritual diawali dengan Poagona Lipu di darat, dilanjutkan pengambilan serta penggunaan air berkah yang telah direstui. Kemudian berlanjut ke Tuturangiana Andala yang disampaikan menggunakan bahasa adat setempat, lalu pembacaan doa selamat dipimpin oleh Imam Pulau Makassar agar seluruh rangkaian mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.
Puncak prosesi ditandai pelarungan sesaji ke empat titik sakral yang diyakini masyarakat, yaitu Samparaja di sisi selatan, Kaju Malanga di sisi barat, Kolema di bagian timur, serta Rape/Latonda Kau di sebelah utara.
“Ritual Adat Tuturangi Andala dan Poagona Lipu kembali digelar di Pulau Makassar. Tujuannya untuk menjaga marwah dan warisan leluhur di era modernisasi,” ujar DiArmudin.
Menyikapi semangat masyarakat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Baubau, Idrus Taufiq Saidi, menyampaikan bahwa setelah sekian lama vakum, kini masyarakat Pulau Makassar kembali termotivasi, mulai dilembagakan, serta bergerak berkolaborasi bersama berbagai stakeholder. Ia menegaskan wilayah Pulau Makassar sebagai daerah pinggiran membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk mencegah abrasi laut, terjangan gelombang utara, sekaligus menjaga kelestarian situs‑situs adat yang ada.
Menurut Idrus, menjaga marwah negeri memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar acara seremonial. Meski sarat unsur spiritual berupa doa, permohonan restu, serta ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, ritual ini menjadi fondasi kuat bagi identitas masyarakat Pulau Makassar.
“Event kebudayaan yang sejati lahir dari kesadaran kolektif masyarakat, bukan semata‑mata karena intervensi pemerintah. Hanya dengan begitu kegiatan ini dapat menjadi rujukan yang kuat,” tegasnya.
Ia juga mengajak unsur eksekutif, pemerintah setempat, DPRD, lembaga adat, serta seluruh masyarakat untuk terus bersinergi. Kolaborasi ini diharapkan membuat nilai‑nilai budaya Pulau Makassar tetap hidup, terjaga, dan dapat diwariskan utuh kepada generasi penerus.
Dengan berjalannya ritual adat ini, Pulau Makassar tidak hanya tampil sebagai wilayah pesisir yang indah, tetapi juga sebagai pusat warisan leluhur yang tetap berdenyut di tengah perubahan zaman. (Ha)
Editor : Harry

