Mantan Dosen Universitas Cendrawasih: Perbaikan Lahan Kritis Buton Selatan Lewat Strategi Industri Dan Kemitraan

SPIONNEWS.ID, BUSEL- Mantan dosen Universitas Cenderawasih, Dr. Drs. La Alimuddin, M.Si, mengungkapkan pentingnya perbaikan lahan kritis di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Menurutnya, masalah lahan kritis di wilayah tersebut harus segera diatasi dengan kerja sama semua pihak. Ia menawarkan gagasan inovatif berupa pemanfaatan komposting kotoran sapi sebagai solusi utama untuk menangani lahan yang rusak serta limbah sapi yang melimpah di Buton Selatan.

“Lahan kritis di Buton Selatan perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengolah kotoran sapi menjadi kompos yang bermanfaat,” ujar Dr. La Alimudin. Ia menambahkan bahwa kotoran sapi, yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan, sebenarnya memiliki potensi besar untuk dijadikan kompos berkualitas tinggi.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan, Buton Selatan merupakan daerah penghasil ternak sapi dengan jumlah yang cukup besar, sehingga limbah kotoran sapi menjadi masalah lingkungan yang memerlukan penanganan khusus. Menurut Dr. La Alimuddin, kotoran sapi sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki nilai ekonomis yang tinggi bila diolah menjadi kompos. Kompos tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah yang rusak.

Ia menjelaskan bahwa teknik komposting ini juga berpotensi mengubah limbah ternak menjadi produk bernilai tinggi bagi sektor pertanian. Pemanfaatan kotoran sapi tidak hanya membantu memperbaiki lahan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga : Berkunjung Di Lapandewa, Pasangan “Halal” Disambut Ribuan Simpatisan

Selain komposting, Dr. La Alimuddin mengusulkan budidaya cacing sebagai strategi tambahan dalam memperbaiki lahan kritis. Cacing dapat memproses kotoran sapi menjadi vermikompos, yang kaya nutrisi dan sangat bermanfaat bagi tanaman.

“Semakin banyak cacing yang dibudidayakan, semakin banyak juga lahan kritis yang dapat diperbaiki. Kotoran cacing adalah sumber nutrisi alami yang dapat membantu pemulihan lahan secara signifikan,” jelasnya.

Ide ini telah diaplikasikan melalui kemitraan dengan Rumah Alam Jaya (RAJ) , sebuah perusahaan di Kota Malang. Proyek percontohan ini berpusat di Dusun Kakambero Kelurahan Masiri Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan (Busel), di mana program komposting dan budidaya cacing sedang berjalan. Hasil pertama dari proyek ini diperkirakan akan dipanen dalam waktu enam bulan ke depan.

Menurut Dr. La Alimuddin, teknik komposting cacing telah terbukti berhasil secara nasional. Beberapa daerah di Indonesia sudah menerapkan metode ini dan bahkan berhasil menembus pasar ekspor. Negara-negara seperti Cina, Pakistan, dan Korea Selatan sudah menjadi tujuan ekspor kompos hasil dari budidaya cacing ini.

Ia berharap gagasan ini dapat diterapkan secara luas di Buton Selatan, sehingga wilayah tersebut bisa menjadi model baru dalam pengelolaan lahan kritis dan sektor pertanian yang berkelanjutan.

“Jika kita bisa menerapkan ide ini dengan baik di Buton Selatan, tidak hanya lahan kritis yang bisa diperbaiki, tetapi kita juga bisa menciptakan peluang ekonomi baru. Daerah ini bisa menjadi pusat produksi kompos berkualitas tinggi, yang dapat bersaing di pasar internasional,” ungkapnya.

Dengan optimisme tinggi, Dr. La Alimuddin percaya bahwa melalui pendekatan kolaboratif, Buton Selatan dapat menjadi contoh sukses bagaimana masalah lingkungan dapat diatasi dengan inovasi dan kerja sama industri.

“Kita memiliki potensi besar di sini, dan dengan kemitraan yang tepat, kita bisa membuat perubahan nyata untuk masa depan Buton Selatan,” tutupnya. (*)

Liputan : La Nare

Editor : Rusly, S.Mn.

One thought on “Mantan Dosen Universitas Cendrawasih: Perbaikan Lahan Kritis Buton Selatan Lewat Strategi Industri Dan Kemitraan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *