SPIONNEWS, Maluku – Masyarakat mengeluhkan pelayanan Pelabuhan Ferry Hunimua – Waipirit Pasalnya, arus mobilitas masyarakat Pulau Seram cukup tinggi, sementara Fery yang beroperasi saat ini hanya 2 buah fery sehingga berdampak pada penumpukan kendaraan baik roda empat maupun roda 2 hal ini menjadi keluhan masyarakat pengguna jasa penyeberangan fery Waipirit – Hunimua.
Terkendala penyeberangan terjadi akibat dari kapal fery yang terbatas sehingga diharapkan ada perhatian dari pemerintah daerah Provinsi Maluku untuk bisa melihat persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Seram saat ini.
Ketika ditemui Ketua Konsorsium Pemuda Seram Yasir Rumbouw menyampaikan Hal tersebut membuat jadwal keberangkatan kapal Fery molor berjam – jam karena hanya bertumpu pada 2 kapal transportasi fery, keadaan ini jika tidak di sikapi dengan baik maka penumpukan kendaraan mengular di areal pelabuhan baik itu dermaga Waipirit maupun Hunimua.
“Pihak pengelolaan jasa penyeberangan fery Waipirit – Hunia segera menyikapi kendala ini, sebab kebutuhan arus penyeberangan semakin tinggi apalagi menjelang Natal dan tahun baru pasti mobilitas masyarakat semakin meningkat hal ini perlu dipikirkan secara baik oleh pihak penyedia jasa pelayaran khusunya dermaga Waipirit – Hunia” ungkapnya.
Ditambahkan oleh Mus sebagai pengguna jasa pelayaran Fery Waipirit – Hunimua bahwa kadang kami antre sampai 2 – 3 hari baru bisa dapat giliran menyeberang Penyebabnya karena keterbatasan kapal fery yang beroperasi. selasa (10/12/2024).
masyarakat menuntut agar angkutan fery harus ditambahkan agar kendala penyeberangan dapat teratasi dengan baik, jika operasional masih tetap seperti ini justru membuat masyarakat semakin jenuh dan berdampak buruk yang berujung pada aksi protes oleh masyarakat terhadap pelayanan angkutan laut di Waipirit – Hunimua.
“Mus menyampaikan Yang kami muat ini kebutuhan (pangan) masyarakat sehari-hari untuk didistribusikan ke ke Ambon Artinya kami juga membantu program-program pemerintah tetapi pelayanan sperti ini apa yang kita harapkan”, ujarnya.
Pihak ASDP harus melihat persoalan ini sebagai problem publik, jangan menganggap kondisi ini adalah hal biasa tetapi perlu langkah cepat sehingga keluhan masyarakat cepat teratasi dengan kebijakan yang bijaksana oleh pihak ASDP.
Waktu yang bersamaan telah dikonfirmasikan kepada pihak ASDP Cabang Ambon tetapi tidak diberikan ruang untuk berjumpa dengan kepala ASDP hingga berita ini dinaikan.(BS)
Editor: Harry


ASDP tidak siap menghadapi situasi dan kondisi ini, padahal hal seperti ini adalah merupakan persoalan rutin yg dihadapi setiap tahunnya…
Miris memang..!!