Logika Semut Dan Isra’ Mi’raj Bagian II

Oleh: La Ode Muhammad Syamsir, S.K.M

SPIONNEWS.ID, BAUBAU – Dalam logika semut, tidak mungkin seekor semut bisa pulang pergi dari Baubau-Makassar dalam waktu singkat. Sama halnya dengan Nabi, dalam logika manusia tidak mungkin nabi bisa sampai ke langit ke tujuh dalam waktu singkat. Disinilah arti pentingnya kekuatan lain yang kekuatannya di atas yang lainnya dan tak terbatas.

Itulah alasan kenapa surah al-Isra’ ayat 1 menggunakan redaksi “أَسْرَىٰ” “ (Dia) telah memperjalankan… ”Artinya, Allah Subhana Wata’ala menegaskan bahwa dirinyalah yang telah menahkodai perjalanan Nabi. Ketika Allah yang menjadi nahkoda, itu artinya Nabi pasif. Perjalanan Nabi ke langit ke tujuh murni dalam kuasa Tuhan. Bagi Allah, tentu perjalanan ke langit ketujuh sangatlah mudah dan tidak perlu memakan waktu lama sebagaimana dalam logika manusia.

Siapa yang diperjalankan oleh Allah Subhana Wata’ala?

Pada lanjutan surah al-Isra’ ayat 1 tersebut, Allah Subhana Wata’ala menggunakan redaksi “bi a’bdihi/ بِعَبْدِهٖ” (hamba-Nya). Allah Subhana Wata’ala telah memperjalankan hambanya yang bernama Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Dari sini, dapat diambil isyarah bahwa setiap manusia yang telah sempurna penghambaannya (ubudiyah) terhadap Tuhannya akan diberikan kekuatan untuk melakukan mi’raj.

Sebutan “bi a’bdihi” diredaksikan sebagai bentuk pengakuan Allah Subhana Wata’ala bahwa Nabi Muhammad sebagai hamba-Nya. Beliau diakui sebagai hamba-Nya karena Nabi telah mencapai puncak dari ubudiyahnya sehingga Nabi dimi’rajkan.

Ter-mi’raj di kalangan sufi kemudian digunakan untuk menerjemah pengalaman spiritual menuju Tuhan sebagaimana yang dialami Nabi.

Baca juga : Logika Semut Dan Isra Mi’raj

Ibnu Arabi dalam “Futuhat al-Makkiyah” menulis;

“Setiap pandangan ke arah alam semesta dari diri seseorang maka ia disebut nuzul (turun). Setiap pandangan ke ‘arah’ Tuhan dari diri seseorang maka disebut ‘uruj (mi’raj)”

Setiap hamba akan mengalami pencapaian mi’raj sesuai dengan kapasitas kehambaannya. Jika mi’raj nabi secara fisikal ruhaniyah, maka selain nabi hanya bersifat ruhaniyah saja.

Ibnu ‘Ajibah dalam “Al-Bahrul Madid” mengatakan:

“Sesungguhnya seseorang yang telah sempurna penghambaanya, tentu akan mendapatkan bagian dari Isra Mi’raj. Hanya saja Isra’ Mi’raj fisikal-ruhaniyah hanya untuk Nabi saja, sementara yang lain hanya ruhaniyah saja sesuai dengan kapasitas purifikasi terhadap ruhnya masing-masing. Imajinasi dan ruh mereka melakukan perjalanan mi’raj hingga ke ‘Arsy. Tenggelam dalam lautan alam jabarut dan cahaya-cahaya alam malakut. Para Wali-wali Allah mengalami ini sesuai dengan takhallai dan tahallinya”.

Oleh-oleh salat lima waktu yang dibawa Nabi setelah bertemu Allah Subhana Wata’ala dalam peristiwa Isra Mi’raj memberikan pesan bahwa hamba-hamba Allah lainnya bisa merasakan sensasi perjalanan spiritual bertemu dengan Allah Subhana Wata’ala lewat salat lima waktu.

Baca juga : Logika Semut Dan Isra Mi’raj Bagian III

Seorang hamba yang benar-benar totalitas dalam salat dapat bermunajat merasakan kehadiran Tuhan sehingga dalam salatnya terbangun “dialog” antara ia dengan Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan hadist Nabi:

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

“Salat itu adalah mi’raj orang mukmin”

Hemat penulis, inilah salah satu keistimewaan perintah salat dibanding ibadah-ibadah mahdhah lainnya. Perintah salat dibawa dalam momentum Isra Mi’raj karena salat kelak akan menjadi wasilah mi’raj hamba-hamba Allah Subhana Wata’ala yang saleh. Salat akan menjadi jembatan spritualitas menuju Tuhan.

Disadur dari tulisan Ustadz Doni Ekasaputra (Dosen Ma’had Aly Situbondo).

One thought on “Logika Semut Dan Isra’ Mi’raj Bagian II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *