Penulis : LM. Indra Saputra
Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo
SPIONNEWS.ID, KENDARI – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) adalah jantung dari dinamika kehidupan kampus. Didalamnya, ada semangat kolektif, idealisme muda, dan cita-cita perubahan seringkali bersemayam. Namun, belakangan ini muncul satu pertanyaan yang menggugah kesadaran kita semua: Apakah Ormawa hari ini benar-benar bergerak untuk kepentingan bersama, atau justru hanya menjadi alat kepentingan segelintir individu didalamnya?
Di banyak kampus, kita menyaksikan bagaimana kegiatan organisasi tampak aktif di permukaan rapat, aksi, seminar, hingga pelatihan kaderisasi. Tapi di balik itu, tak jarang kita temukan konflik internal, ego kepemimpinan, dan minimnya keberpihakan terhadap kebutuhan riil mahasiswa. Ormawa yang semestinya menjadi ruang pembelajaran dan pengabdian, perlahan berubah menjadi panggung pencitraan, bahkan ajang perebutan kekuasaan kecil-kecilan.
Semangat kolektif yang seharusnya menjadi ruh utama, kadang terkikis oleh ambisi pribadi. Suara-suara mahasiswa marjinal diabaikan, kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa tidak direspon kritis, dan solidaritas antar lembaga mahasiswa makin melemah. Ironisnya, semua itu terjadi ketika struktur Ormawa justru sedang dalam masa aktifnya.
Pertanyaan pentingnya adalah : untuk siapa sebenarnya Ormawa bergerak? Jika jawabannya hanya untuk kepentingan elit internal atau kelompok tertentu, maka Ormawa telah kehilangan arah. Tapi jika Ormawa mampu membuka ruang aspirasi seluas-luasnya, bersuara atas keresahan kolektif mahasiswa, dan berdiri di garis depan perjuangan intelektual serta sosial, maka ia benar-benar menjadi denyut jantung kampus yang hidup dan sehat.
Sudah saatnya kita mengevaluasi dan merefleksikan arah gerak organisasi mahasiswa kita. Apakah kita masih setia pada semangat awal: bergerak bersama, tumbuh bersama, dan berjuang bersama? Atau justru terlena pada kenyamanan struktural tanpa menyentuh denyut kehidupan mahasiswa yang sesungguhnya?
Kampus bukan hanya ruang akademik, tapi juga arena pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Dan Ormawa, sebagai jantungnya, harus berdetak untuk semua. Bukan untuk segelintir. Bukan untuk kepentingan sesaat tapi untuk cita-cita besar: mewujudkan mahasiswa yang kritis, berdaya saing, dan bersama-sama membangun masa depan bangsa.(*)
Editor : Sdr. RAL

