Refleksi 17 Agustus 2025
Oleh : Amidan Rumbouw
SPIONNEWS.ID, MALUKU – Indonesia ditetapkan merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 di bawah proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno bersama Drs. Mohammad Hatta. Momentum itu menjadi tonggak sejarah bagi lahirnya sebuah Bangsa yang merdeka setelah sekian lama dijajah.
Proklamasi bukanlah sekadar pembacaan teks, melainkan hasil akumulasi perjuangan panjang dari berbagai lapisan rakyat. Di baliknya ada darah, air mata, dan pengorbanan yang tak ternilai. Jenderal Sudirman, misalnya, menjadi salah satu sosok penting yang menegaskan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan harus dilakukan hingga titik darah penghabisan. Beliau bergerilya walau dalam keadaan sakit, demi tegaknya Republik.
Perjuangan bangsa Indonesia saat itu bukan hanya perjuangan sekelompok elite, tetapi perjuangan kolektif. Ada petani, nelayan, buruh, pemuda, hingga kaum perempuan yang ikut mengambil bagian. Kesadaran yang tumbuh adalah bahwa penjajahan harus diakhiri. Kolonialisme telah menindas bangsa ini terlalu lama, merampas tanah, hasil bumi, bahkan martabat rakyat.
Baca Juga : Rencana Pemindahan Kantor Walikota Ambon Di Tengah Infrastruktur Dasar Yang Masih Minim
Dari kesadaran itu lahirlah semangat “Merah Putih” yang tak bisa dibendung. Bendera bukan hanya simbol, tetapi juga jiwa perjuangan yang menyatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Soekarno berdiri di garda terdepan dengan sikap tegas dan penuh keberanian. DIa memahami betul penderitaan rakyatnya, dan dari situlah Dia mendapatkan kekuatan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Pidato-pidato Soekarno selalu membakar semangat. Dengan retorika yang kuat, ia mampu menggugah kesadaran rakyat dan sekaligus mengingatkan dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar. Bagi Soekarno, Indonesia bukan negara kecil yang bisa diremehkan. Indonesia adalah bangsa yang berdaulat, punya hak untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain. Karena itu, Soekarno menjadi simbol perlawanan dan kedaulatan. Dia dikenang sebagai pahlawan nasional nasional yang meletakkan dasar bagi berdirinya negara yang merdeka.
Setelah era Soekarno, sejarah mencatat munculnya sosok Soeharto. Dia memimpin Indonesia dengan model yang berbeda, menekankan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi meski penuh kontroversi. Dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan lain, Indonesia terus bergerak. Setiap presiden membawa gaya dan kebijakannya sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Hingga akhirnya, pada masa kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Seorang tokoh Militer yang kini dipercaya rakyat untuk memimpin Indonesia. Tentu, di setiap Pemerintahan selalu ada gejolak. Tidak sedikit pejabat yang keliru menggunakan kewenangannya sehingga menimbulkan kontroversi di mata rakyat.
Namun demikian, tekad Presiden Prabowo untuk menjaga nama baik Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia berusaha menguatkan kedaulatan dan menjaga kehormatan Bangsa di mata dunia.
Tantangan terbesar justru datang dari kelompok-kelompok tertentu yang berusaha memecah belah persatuan.
Mereka menyebarkan isu, fitnah, bahkan adu domba demi kepentingan sempit.
Pada hari ini, Minggu, 17 Agustus 2025, seluruh rakyat Indonesia kembali mengenang detik-detik Proklamasi dengan penuh khidmat. Dari Sabang sampai Merauke, Bendera Merah Putih berkibar di angkasa.
Harapan rakyat tertuju pada pemimpin Bangsa. Apa yang disampaikan Presiden di podium nasional hari ini menjadi doa dan penantian rakyat untuk hidup yang lebih sejahtera. Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kesejahteraan rakyat. Tidak boleh ada lagi ketimpangan yang terlalu lebar antara si kaya dan si miskin, antara pusat dan daerah, antara Jawa dan luar Jawa.
Dia juga menyinggung masalah besar yang masih menghantui Negeri ini. Yaitu korupsi. Rakyat berharap tekad Presiden untuk membasmi para koruptor sungguh-sungguh dijalankan sesuai konstitusi UUD 1945.
Korupsi adalah penyakit yang merusak sendi-sendi negara. Jika dibiarkan, maka perjuangan para pahlawan akan terasa sia-sia. Karena itu, pemberantasan korupsi harus menjadi agenda utama. Selain itu, pesan tegas juga disampaikan kepada aparat TNI-Polri. Tidak boleh ada keterlibatan dalam tambang ilegal, sebab itu merusak lingkungan, merugikan negara, dan menyengsarakan rakyat.
Jika aparat negara ikut terlibat dalam praktik kotor, maka kepercayaan rakyat akan hancur. Sebaliknya, jika mereka berdiri tegak menjaga hukum, maka persatuan bangsa akan semakin kuat. Semua niat baik ini harus dijalankan sesuai semangat Pancasila. Lima sila yang menjadi dasar negara bukan hanya teks, tetapi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
Pancasila menuntun pemimpin agar selalu berpihak pada rakyat, mengutamakan keadilan sosial, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Semoga di usia Kemerdekaan yang ke-80 tahun ini, Indonesia semakin matang sebagai bangsa. Dengan kepemimpinan yang tegas dan berpihak pada rakyat, cita-cita para pendiri Bangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dapat tercapai dengan baik.
Penulis adalah Koordinator Wilayah V Ikatan Lembaga mahasiswa Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (ILMISPI) se-Indonesia
Editor : Redaktur SpionNews.id Maluku

