SPIONNEWS.ID, MALUKU – Di sebuah rumah sederhana Negeri Wahai Kecamatan Seram Utara- Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, duduklah seorang lelaki tua Samsudin Latuian, atau yang akrab disapa Pak Udin. Mantan Saniri (pemangku adat) Negeri Wahai ini, dengan suara tenang namun penuh keyakinan, membagikan kisah pilu warga adatnya. Sambil merokok di tempat tidurnya, semangatnya untuk membela hak rakyat justru terlihat lebih membara daripada api di ujung rokoknya. Keluhannya tentang tanah ulayat yang diduga dirampas perusahaan tambak udang Arara di Maluku Tengah, adalah cerita tentang seorang anak adat yang merasa dikhianati.
Kepada awak media SPIONNEWS.ID Pak Udin menceritakan perjuangan panjangnya menghadapi birokrasi. Ia menggambarkan betapa jalur hukum yang ditempuh terasa berbelit dan tidak jelas. "Kami sudah lakukan semua prosedur. Urus dari daerah sampai ke pusat. Tapi setelah sampai di Jakarta, janji pertemuan hanya jadi omong kosong. Mereka yang di Jakarta mengatur jadwal, tapi tidak pernah ada tindakan nyata," keluhnya dengan nada kecewa.Inti masalahnya, menurut Pak Udin, adalah ketiadaan transparansi dari perusahaan dan pemerintah. Ia mencontohkan aktivitas penambangan pasir yang diduga ilegal. "Tanpa pemberitahuan yang jelas kepada masyarakat adat, tiba-tiba sudah ada lubang-lubang besar. Pasir di tanah kami diambil dan diduga dijual ke luar daerah, bahkan mungkin ke luar negeri. Kami sama sekali tidak menikmati hasilnya," ujarnya.
Bukan hanya pasir, kekayaan hutan mereka juga menjadi incaran. Pak Udin menyebutkan kayu-kayu berharga seperti kayu besi (merbau) yang ditebang secara paksa. "Ini adalah harta warisan leluhur kami. Semua kayu-kayu itu adalah hak kami, tetapi kini habis diangkut pergi tanpa ada manfaat yang kembali untuk negeri kami," tambahnya dengan suara lirih penuh keprihatinan.
Dengan mata berharap, Pak Udin menyampaikan permohonan terakhirnya. Ia meminta media dan pemerintah mendengarkan suara rakyat kecil. "Kami mungkin dianggap masyarakat bodoh. Tapi soal hak, kami masih paham. Kami masih bisa bicara dan kami masih bisa berjuang. Tolong dengarkan kami," pinta Pak Udin, menegaskan bahwa masyarakat adat tidak akan diam ketika haknya diinjak-injak.
Ia bahkan mendesak agar persoalan ini didengar oleh dunia internasional. "Saya minta tolong kepada media, bantu suara kami sampai ke dunia internasional. Sebarkan berita ini lewat internet. Biarkan dunia tahu apa yang terjadi di sini, tentang perusahaan-perusahaan yang mengambil tanah kami dan tentang pemerintah yang diam saja," serunya berani.
Pak Udin juga menuntut perusahaan untuk bertanggung jawab secara sosial. "Perusahaan harus memperhatikan kehidupan kami. Mereka harus membantu membangun atau memperbaiki rumah ibadah, baik gereja maupun masjid. Dan yang paling penting, mereka harus mengakui dan memberikan hak-hak negeri adat Wahai," tegasnya, sambil menyebut PT Djayanti Grup sebagai salah satu perusahaan yang terlibat.
Kekecewaan terbesarnya tertuju pada pemerintah lokal. "Pemerintah Desa diam saja, tidak membela kami. Begitu juga dengan para Camat di Seram Utara. Mereka hanya diam dan menikmati posisinya, sementara laporan dan penderitaan kami hanya menjadi arsip yang tak dipedulikan," ungkap Pak Udin dengan getir.
Menutup pembicaraan, ia kembali menitipkan harapannya. "Ini adalah harapan terakhir saya. Semoga SPIONNEWS.ID bisa membantu menyelesaikan masalah hukum adat yang dikelabui perusahaan di Seram Utara ini. Banyak media sudah datang, tapi masalahnya tetap sama. Sedih, kami sudah tidak tahu lagi harus berharap pada siapa," ucapnya.
Pesan terakhirnya adalah seruan yang menggema. "Saya mohon, angkatlah persoalan rakyat kecil ini. Bawa suara kami dari tanah Seram ini sampai ke seluruh dunia, bahkan sampai ke langit! Hanya itu harapan saya," pinta Pak Udin dengan suara penuh keyakinan.
Kisah Pak Udin adalah cermin dari perlawanan warga adat di seluruh Indonesia. Di tengah janji pembangunan, hak-hak dasar masyarakat justru sering diabaikan. Semangat Pak Udin mengingatkan kita bahwa tanah bukan sekadar hamparan, tapi identitas, martabat, dan warisan leluhur yang harus dipertahankan. Perjuangan Samsudin Latuian dan warga Seram Utara adalah sebuah teguran keras: jangan biarkan suara lirih dari desa berubah menjadi amukan massa yang tak terbendung.
Liputan : Ahmad Salatin
Editor Erwin Banea

