SPIONNEWS.ID, MALUKU – Akademisi sosiologi Prof. Dr. Aholiab Watloly, S.PAK., M.Hum, ikut turun langsung dalam aksi penolakan kebijakan konservasi laut yang merujuk pada Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2022, Rabu, 06/05/2026.
Kehadiran Watloly memberi warna beda dalam aksi demonstrasi masyarakat dan mahasiswa tersebut. Ia tidak hanya menyuarakan penolakan, tetapi juga mengangkat pendekatan filosofis dengan menekankan konsep kosmos dalam kehidupan masyarakat Maluku.
Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa Maluku sebagai daerah kepulauan tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Laut, pulau, dan manusia merupakan satu kesatuan utuh yang saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan.
Menurutnya, konsep kosmos menggambarkan bahwa kehidupan masyarakat Maluku, khususnya di wilayah pulau-pulau kecil seperti Damer, bertumpu pada relasi menyeluruh antara manusia dan alam. Karena itu, kebijakan yang memisahkan akses masyarakat dari laut dinilai berpotensi merusak tatanan kehidupan tersebut.
Akademisi yang juga merupakan putra Damer itu menegaskan bahwa pendekatan konservasi yang tidak memahami kesatuan kosmos masyarakat kepulauan justru berisiko menciptakan ketimpangan dan konflik sosial di tingkat lokal.
Keterlibatan akademisi dalam aksi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa penolakan terhadap kebijakan konservasi laut tidak hanya datang dari masyarakat dan mahasiswa tetapi juga dari kalangan intelektual yang melihat adanya persoalan mendasar dalam pendekatan kebijakan tersebut. (EB)
Editor : EB

