Opini : Rasmin Jaya (Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025)
Kendari – Persatuan Alumni (PA) GMNI Sulawesi Tenggara baru saja menggelar hajatan besar, Konferensi Daerah (Konferensi Daerah) 1 yang di laksanakan pada 15 Agustus 2026 di Kendari. Sebuah momentum ideologis, strategis nan krusial untuk meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI, Marhaenisme, Nasionalisme tanpa tercerabut dari kultur ideologisnya dan geografisnya.
Momentum tersebut juga menjadi kesempatan strategis untuk konsolidasi barisan marhaenis dan nasionalisme di Sulawesi Tenggara bukan hanya di tataran alumni tentu juga harus menyentuh akar rumput anggota dan kader, lepas dari ego sektarian, embel-embel primordial serta mengedepankan rasa kebersamaan, solidaritas dan kekompakan yang menjadi nyawa dari pada GMNI itu sendiri yakni gotong royong.
Era baru, Persatuan Alumni GMNI Sulawesi Tenggara juga mesti menjadi Spektrum perjuangan GMNI yang amat luas, tidak hanya sebatas pada momentum sesaat atau hanya kepentingan segelintir pihak tapi mesti menjadi lokomotif penggerak transformasi bangsa menuju indonesia maju yang berdaulat khususnya yang ada di Sulawesi Tenggara secara khusus.
Sebab kita tau, Alumni GMNI sedang menapaki jalan panjang perjuangan ke depan, kembali merintis, merekatkan yang jauh dan mengkombinasikan segala instrumen sumber daya yang ada dari segala disiplin keilmuan yang ada yang juga akan menjadi tangga, estafet dan regenerasi kepemimpinan depan tentang kebermanfaatan.
Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan, sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul. Apalagi forum tersebut dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan, merumuskan langkah langkah ke depan dengan segala program.
Momentum Konferda Persatuan Alumni GMNI Sultra tidak boleh dianggap hanya seremonial, penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis, kader dan alumni secara umum.
Berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta. Berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta.
Alumni GMNI Sulawesi Tenggara telah melewati pasang surut, ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit hingga apapun itu namanya tak pernah sedikitpun pasrah.
Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan terus melambung tinggi, berkali-kali persatuan di jahit dengan penuh lirih, kata demi kata ini adalah ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan.
Tetapi akan menjadi sebuah ironi jika organisasi yang lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita Marhaenisme yang mengajarkan persatuan, keberanian, dan kesetiaan kepada rakyat kecil justru kehilangan khitah perjuangan dalam refleksi perjalanan yang sudah sejauh ini.
Forum ideologis tersebut harus terus menjadi kawah candradimuka membentuk karakter pemimpin, untuk mengisi ruang pengabdian di berbagai sektor strategis. Juga menjadi penting merumuskan langkah-langkah perjuangan ke depan yang krusial nan strategis.
Saya percaya setiap kader merindukan kejayaan dan kemenangan. Suatu masa di mana semua merasa bisa berdaya, tapi itu adalah proses yang semuanya sedang menuju di sana sebab tak ada yang instan. Semuanya harus di perjuangkan dan di usahakan dengan baik.
Para kader atau alumni tidak hanya sekadar mencari pengakuan, tetapi harus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi dan tuntutan sejarah serta terus berkontribusi pada kemajuan daerah khususnya Sulawesi Tenggara.
Hal ini dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api Nasionalisme masih menjadi benang yang bisa merajut perbedaan dan Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang akan tetap relevant mengikuti arus perkembangan zaman.
GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawah candradimuka untuk setiap insan Marhaenis pejuang pemikir- pemikir perjuang.
Menyongsong hajatan besar ini, dalam refleksi tersimpan banyak harapan dan impian yang belum banyak terwujud. Tapi ia bergerak seperti gayun bersambut yang saling menghubungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas, serta tak lupa bagaimana ia terus belajar untuk menyiapkan bekal di masa depan.
Ketika momentum, peluang, kesiapan bertemu dalam satu titik maka menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan.
Mari kita sambut moment besar ini dengan nuansa kekeluargaan, sebagai upaya bersama merawat ingatan, menolak lupa atas rasa cinta kepada GMNI dan Ibu pertiwi, cinta yang terus hidup di setiap diskusi. Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan.
Orientasi dan tujuan PA Alumni GMNI Sulawesi Tenggara kedepan harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Ujian independensi akan selalu ada. Godaan akan muncul seperti ombak yang menyeret kita pada pusaran kepentingan praktis.
Momentum ini harus didorong untuk mengingatkan para alumni tentang pentingnya raison d’etre atau “alasan sebuah keberadaan”.
Ikatan ideologilah yang mempersatukan alumni GMNI dalam wadah PA GMNI. Dengan demikian, makin kuatlah tertanam alasan kenapa kita harus berkumpul dan bertemu dalam satu wadah organisasi PA GMNI.
Konferda PA Alumni GMNI Sultra di harapkan dapat menghasilkan pemikiran strategis tentang peranan alumni GMNI ke depan.
Sebagai rumah besar kaum nasionalis dan kaum marhaenis, sebagai kader ia memandang bahwa Persatuan Alumni GMNI harus menjadi yang terdepan dalam merawat nasionalisme yang setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang selalu memperkuat persatuan dan kesatuan, dan memperkokoh kedaulatan bangsa.
Sebagai organisasi perjuangan maka setiap Alumni GMNI tidak saja dituntut berjuang dan berpihak pada kepentingan rakyat tetapi sekaligus berjuang bersama-sama rakyat untuk melawan segala macam bentuk penindasan.
Merdeka. GMNI Jaya, Marhaen Menang.

