Memori dan Cerita Indah Yang Tak Pernah Usai

Opini : Rasmin Jaya (Pemuda Muna Barat)


Fajar menyising di ufuk timur, di beberapa tahun silam, seorang anak yang setiap paginya harus bertarung dengan kehidupan. Ia percaya hidup akan indah pada waktunya. Setiap subuh ia harus bangun duluan, menggendong dan memikul rotinya menjajakan di rumah-rumah, jalanan di saat yang sama anak-anak dengan sangat antusias dan bersemangat menyiapkan dirinya untuk menjemput harapan baik, tentang masa depan yang cerah.

Anak-anak itu tumpah ruah, berjalan kaki dengan seragam SD, SMP dan SMA. Namun anak yang menjajakan rotinya tersebut, tetap berjalan berkeliling kampung sebelum pada akhirnya ia juga berangkat ke sekolah. Tentu semua bertarung dengan hidup dan masa depannya di tengah keterbatasan ekonomi. Tapi impian selalu lebih panjang dari pada tarikan nafas.

Sebuah realitas pahit, tak sedikit pun membunuh langkah, dan cita- cita untuk mengejar apa yang mereka inginkan.

Tapi setiap harinya, anak itu dengan muka kusam dan polosnya selalu bertanya dalam diri. ‎Apa sebenarnya yang kita kejar dan ingin capai dalam hidup ini ? Pertanyaan itu sering sekali membatin. Sebab kita yang setiap harinya selalu di penuhi dengan berbagai aktivitas, bukan hanya di pagi hari, tapi juga d sore harinya ia akan kembali menjajakan jualan rotinya berkeliling kampung usai pulang sekolah di siang hari dan pada malam harinya ia kembali duduk di dapur membuat roti bersama ibunya.

‎Mungkin saja yang lain ada merasa bangga dan syukur bisa mencapai semuanya atas usaha, doa dan ikhtiar yang kita lakukan setiap saat dengan penuh komitmen dan loyalitas perjuangan yang kita lakukan.

‎Sebagai refleksi diri, bagi kita yang sedang di kejar dalam hidup ini adalah ketenangan, kebahagiaan, hidup yang sehat, tercukupinya segala kebutuhan apapun itu dan mungkin juga kita kita sedang menjalani proses pendidikan dan organisasi semoga bisa menjadi jawaban, merubah nasib, takdir dan jalan sejarah seseorang.

‎Sering kali, apa yang kita lakukan tak selalu sesuai apa yang kita harapkan. Tapi tuhan selalu punya cara dan rencana lain itu yang terbaik dan setiap kejadian selalu ada hikmah di dalamnya.

‎Tak ada waktu lagi menyalahkan keadaan, waktu terus bergerak cepat. Kita harus beranjak, tak mungkin hanya sekadar mengikut arus, kita mesti berselancar dalam pusaran dengan dinamika yang serba ketidakpastian.

Potret dan fenomena di atas adalah sebuah realitas kehidupan desa bagi generasi yang bertarung dengan takdir dan jalan sejarahnya sebab masa depan adalah misteri, dan orang tidak bisa membunuh dan menghakimi masa depan generasi.

Bagi saya ini gayung bersambut yang saling terhubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebuah memori di simpang jalan masa kecil terlintas kembali, kita mengenang dan mengorek tentang kisah-kisah dulu. Masih terasa nuansa desa di atas “Bumi Manusia”. Ketika masih bersekolah di SD, kehidupan kita terasa bahagia meskipun di tengah keterbatasan.

Bukan harta, takhta, atau kemewahan ekonomi, tetapi kita bisa bebas bermain apa saja sampai kadang lupa waktu meskipun di saat yang sama juga tetap menunaikan tanggung jawab membantu orang tua usai pulang sekolah, jualan roti, berkebunnayau masuk hutan. Namun Beragam permainan tradisional turut menghiasi masa kecil kita. Kita yang lahir dari sebuah pelosok desa kecil, Maperaha, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat, yang mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor pertanian yang masih kental dengan kulturnya.

Pikiran itu kembali menolak lupa, seperti mengalir deras, membawa kisah-kisah hutan dan desa yang tetap teguh meski dunia terus berubah. Seperti air, kita belajar untuk mengalir, melewati rintangan, dan tetap menemukan jalan menuju kebebasan. Memang di masa itu, belum ada gegap gempita pesatnya perkembangan teknologi, gawai, dan beragam gim lainnya dengan tetek bengeknya. Pasalnya memang kita tinggal di pelosok desa yang masih asri, indah, nyaman, tanpa hiruk-pikuk perkotaan dan jauh dari industri pabrik yang mencemari desa tersebut; seperti gadis “perawan”, cantik dan selalu tersimpan dalam memori.

‎Ini adalah selayang pandang dari sebuah fenomena bukan tentang orang lain, tapi tentang kita yang mungkin juga orang lain di luar sana yang merasakan hal serupa. Tapi, ada beberapa hal yang menarik dan paling berkesan yang tersirat maupun tersurat dari sebuah percakapan seorang anak dan orang tuanya.

‎Singkat tapi bermakna. Mungkin saja atas kehidupan yang keras, membentuk karakter dan kepribadian hingga saat ini yang berjuang dan terus memantaskan diri melalui jalan pendidikan.

‎Secercah harapan tentang hari esok, meskipun orang tua tidak menuntut kita harus seperti apa ke depan, tetapi paling tidak kita sebagai anak bisa berpikir, memahami, mengilhami, dan mendalami setiap makna yang tersirat dari setiap ungkapan yang datang dari perasaan dan hati yang penuh harap.

‎Bagi banyak orang tua, mendorong anak untuk sekolah butuh perjuangan berat. Jadi, ketika anaknya bisa sarjana, itu benar-benar sebuah pencapaian bagi mereka. Apalagi kalau mereka dulunya enggak punya kesempatan untuk bersekolah lebih baik. Menguliahkan anak sampai sarjana itu sebuah pencapaian bagi mereka. Kalau bagimu itu biasa saja, jangan pakaikan ukuran bajumu ke tubuh mereka.

‎Apalagi tubuh mereka yang setiap hari dibakar panas matahari, di hantam oleh hujan setiap saat, dihadapkan dengan kerja-kerja yang tak mudah demi anak sekolah. Penghasilan orang tua setiap bulannya mungkin tak seberapa, tapi tekad, semangat, dan jiwa optimis membara di dalam dada demi melihat anaknya mencapai puncak kesuksesannya.

Malam ini kita kembali bercengkrama dan berdiskusi banyak, tentang hal-hal yang sederhana, bermakna tapi serius. Menceritakan bagaimana sebelum sekolah SD dulu betapa seringnya kita mencari jambu batu, dan alhamdulillal persahabatan masih terawat dari perjalanan panjang yang tak akan lekang di gigit tempo.(**)

Editor : Harry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *