SPIONNEWS, BATAUGA – dalam perumusan RPJMD Kabupaten Buton Selatan melibatkan dua tokoh utama dan tokoh penting nasional yaitu Prof. Sumbangan Baja dan DR. MZ. Amirul Tamim. Ketika dilakukan musyawarah bersama seluruh kepala OPD Kabupaten Buton Selatan, dan berbagai tokoh masyarakat termasuk pihak anggota DPRD Kabupaten Buton Selatan.
Kegiatan yang kedua kalinya ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam merumuskan bersama di musrembang bersama dua tokoh utama tersebut. Salah satu tokohnya yaitu Prof. Sumbangan Baja.
Dalam pembahasan di Musrenbang tersebut, Prof. Sumbangan Baja menuturkan, benarkah dengan banyaknya jumlah penduduk akan memberikan peluang untuk bisa majunya satu daerah, lebih dari 100.000 orang, jumlah penduduk di Buton Selatan, terdapat 60.000 lebih, masuk kategori produktif, namun bila tidak berbuat apa-apa, karena tidak adanya lapangan pekerjaan, pendidikan yang tidak memadai, yang disiapkan dengan baik misalnya, infrastruktur, kesehatan karena mereka kurang sehat, maka hal ini yang harus kita upayakan dalam program-program besar kita nantinya di Kabupaten Buton Selatan” ungkapnya, di Gedung Lamaindo, Sabtu, 26/7/2025.
Ia menambahkan, bagaimana kita bisa meyakinkan bahwa 60.000 orang lebih ini bisa berdaya bagi daerahnya hal ini bila dilihat dari banyaknya jumlah penduduk yang produktif di Kabupaten Buton Selatan di mana usia produktif banyak sekitar 60.000 orang lebih.
“Jika sudah terlanjur menetapkan bahwa kita menuju pusat pertumbuhan ekonomi baru, maka harus ada upaya besar yang harus dilakukan upaya besar itu seperti, kita akan dalami agar masalahnya dulu, dan kita lihat masalah apa saja yang harus kita pecahkan dan ini diskusi panjang dengan kepala Bappeda kabupaten Buton Selatan, dan tim, dan berbagai elemen masyarakat” tegasnya
Jelasnya, Sehingga nantinya kita dapat masalah ini dan jika tidak kita tuntaskan dengan baik, visi yang tadi kita utarakan akan membutuhkan waktu yang lebih panjang, barangkali bisa 5 tahun.
“Yang pertama regulasi kita mari kita lihat kembali, apakah RT RW kita yang sekarang ini sudah sampai di mana, karena ya hal ini juga akan menghambat, kita mau melakukan sesuatu tapi RT RW mengatakan belum selesai, atau provinsi juga sementara berproses, hal ini membuat beberapa investor tidak mau, karena beberapa investor sangat paham tentang regulasi” imbuhnya.
Terangnya, Prof, dalam Musrenbang Buton Selatan tersebut, Bila dirinya ke daerah dan kita menawarkan sesuatu, maka mereka akan melihat bagaimana RT RW di daerah tersebut, karena ini menjadi masalah nanti kami kalau kami melanggar misalnya saat investor datang ke daerah tersebut.
“Jadi regulasi ini harus kita Tata dengan baik, cukup di awal ini, kualitas penduduk juga sudah kita tulis jumlahnya banyak, infrastruktur pelan-pelan mari kita benahi, penerimaan pajak kalau masih rendah, untuk PAD Buton Selatan baru 3%, kita berpikir bagaimana upaya kita untuk meningkatkan pendapatan daerah kita. Kita mengharap pikiran dari pemerintah pusat atau dari pemerintah provinsi, dan inovasi hulu hilir” jelasnya.
Ungkapnya, Untuk program ini merupakan salah satu misi provinsi Sulawesi Tenggara, maka perlu diperkuat karena Saya dengar ini sudah menjadi salah satu komitmen pak Bupati, memperkuat hilirisasi karena sumbernya kita ada, kita tidak perlu mengambil sumber dari lain tapi ada di sekitar kita, tinggal upaya hilirisasi di kita perkuat, Saya kira bila kita menangani akar masalahnya dengan baik maka akan terjadi transformasi struktural.
“Di mana bila banyak sumber daya di situ, sumber daya melimpah, tapi kita sendiri sengsara hidupnya, berarti itu tidak ada transformasi struktural, ikan contohnya bila kita ngomong ikan di Busel itu banyak, baru mati satu kali sedangkan di tempat lain sudah 10 kali mati, tapi itu hanya sebatas ucapan tanpa adanya aksi, hal ini menjadi masalah dimana kita harus membuat inovasi agar supaya bahan baku yang banyak ini (ikan) bisa termanfaatkan dengan baik” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perlu meningkatkan industri atau penanganan pengembangan UMKM, dalam bidang perikanan apalagi yang ada di batu atas. Menurut teman saya yang tinggal di batu atas bila kita ingin makan ikan kita tinggal turun di laut ambil ikan, baru dimasak, dan hal itu benar kita tidak membutuhkan kulkas, sedangkan untuk kita yang hidup di kota ikan tersebut sudah kita simpan berhari-hari di dalam kulkas.
“Jadi kalau tidak ada upaya dalam pengembangan UMKM misalnya bagaimana diperdayakan agar nilai tambahnya ini ada menjadi pendapatan masyarakat, maka transformasi itu tidak terjadi, dan di semua sektor termasuk pariwisata, keindahan-keindahan yang ada di Kabupaten Buton Selatan, sungguh luar biasa, tapi kalau tidak ada upaya ada Untuk memanfaatkan hal tersebut, menarik dan memanfaatkan nilai-nilai ekonominya, menarik para wisatawan asing maupun lokal untuk datang, maka itu tidak akan terjadi transformasi struktur” terangnya.
Kata Prof, Sumbangan Baja, semua ini tidak akan terjadi kalau pak Bupati dengan adinda apa wakil bupati, bila bekerja sendiri, dan ini tidak akan mungkin bisa terjadi, karena ini amanah berat daerah, dan telah dituangkan dalam RPJMD ini, bila kita melihat daerah lain itu mereka start dari nol, untuk menempuh sampai garis finish, kita ini di Buton Selatan tidak start dari nol, kita harus mundurkan beberapa langkah dari belakang baru kita mulai Star, dengan kecepatan yang sama dengan daerah lain, kita akan tetap tertinggal terus, kalau kecepatannya sama.
“Bagaimana untuk kita bisa sama atau bahkan melampaui, kita harus akselerasi, akselerasi merupakan istilah fisika sama dengan dipercepat langkah kita, ada rumus percepatannya. Sehingga langkah kita lebih cepat meskipun kita start dari titik yang berbeda tapi kita bisa melampaui mereka yang ada di depan, untuk itu salah satu strategi yang kita lakukan adalah kerja bersama, bersinergi, seluruh OPD, seluruh elemen untuk bekerja sama, mari kita membuat strategi masing-masing OPD, karena memiliki sifat kerja yang berbeda-beda” tutur Prof. Unhas tersebut.
“Tiap OPD lain sifat kerjanya, ada yang menghadapi manusia ada yang menghadapi alam, jadi kita harus membuat strategi, masing-masing dan ajukan ke pak Bupati, bawa ini strategi saya untuk mencapai misi pak Bupati, untuk itu kerja bersama menjadi salah satu kunci untuk memperkuat setelah 5 tahun mendatang kita akan melihat wajah baru Kabupaten Buton Selatan” Harapannya.
Dalam kegiatan musyawarah tersebut tentunya akan menjadi pembahasan bersama di mana tanya jawab akan terjadi dalam Musrenbang RPJMD Buton Selatan Lima orang tokoh mempertanyakan beberapa hal dalam RPJMD tersebut.
Dari pihak anggota DPRD Kabupaten Buton Selatan, mempertanyakan dalam RPJMD Buton Selatan tidak terdapat aspek pertanian di mana selama ini masyarakat Buton Selatan itu banyak hidup dari aspek pertanian ini dan di RPJMD kenapa hal ini tidak dimasukkan?
Tokoh kedua dari camat Lapandewa menuturkan, penjelasan terkait dengan arus makanan ikan yang melewati Buton Selatan itu pernah dijelaskan oleh beberapa para ahli yang sempat memberikan keterangan ketika Buton Selatan masih dalam lingkup Kabupaten Buton beberapa tahun yang lalu. Dan hal ini harus benar-benar diperdayakan karena saat itu belum bisa terlaksana dengan baik pengembangan perikanan apalagi terdapat banyaknya ikan tuna dan ikan lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Tokoh ketiga dari kepala BKSDM Kabupaten Buton Selatan mengungkapkan, demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat penguatan terhadap tingkatan SDM ASN yang ada di Buton Selatan perlu ditingkatkan kembali sehingga dapat menghadirkan pengembangan yang lebih maksimal.
Tokoh keempat, dari ketua Wakil Ketua DPRD Kabupaten Buton Selatan, berharap agar RPJMD yang ada hari ini dapat dirumuskan dan diselesaikan dengan cepat dan bisa di Paripurna kan sehingga nantinya bisa dijalankan demi terlaksananya program-program tersebut.
Dan Tokoh kelima dari Pj. Sekda Buton Selatan, mengucapkan banyak terima kasih kepada dua tokoh tersebut karena mau meluangkan waktu dan hadir di acara musyawarah bersama yang bisa memberikan keterangan dan kelengkapan data dari perumusan RPJMD Kabupaten Buton Selatan (Ha)
Editor : Harry.

