Soeharto: “setia berarti memegang teguh kebersamaan untuk mencapai cita-cita, serta harus “pandai mengenal, melihat, mendengar, dan menganalisis.”
SPIONNEWS.ID, JAKARTA - Di balik sosok tegas dan berwibawa seorang prajurit, ternyata tersimpan kisah cinta yang begitu manusiawi dan menggetarkan hati. Itulah kisah Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Komandan Jenderal Kopassus (dulu Kopassandha), yang tak hanya dikenal sebagai perwira tangguh, tetapi juga sebagai Adik ipar Presiden Soeharto. Namun, siapa sangka, perjalanan cintanya dengan Datit Siti Hardjanti, adik kandung Ibu Tien Soeharto, diwarnai momen canggung yang hampir membuatnya malu besar sebelum akhirnya diselamatkan oleh sang Presiden sendiri.Awal Kedekatan: Dari Malari ke Cendana
Kisah ini bermula pada Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengguncang Jakarta saat kunjungan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei. Aksi yang awalnya bertujuan menentang korupsi, penanaman modal asing, dan ketimpangan sosial, akhirnya berujung kerusuhan besar dengan perusakan berbagai mobil merek Jepang.
Di tengah situasi genting itu, Mayor Wismoyo Arismunandar, yang kala itu menjabat Asisten Pengamanan Kopassandha, mendapat tugas penting dari komandannya: menyampaikan pesan kesetiaan kepada Presiden Soeharto. Dengan hati berdebar, ia pun datang ke kediaman sang Presiden tanpa upacara, tanpa formalitas, hanya menemui Soeharto yang saat itu mengenakan sarung dan kaus oblong.
“Ono opo? (Ada apa?)” tanya Soeharto dengan tenang.
Wismoyo menjawab dengan gugup bahwa Kopassandha akan selalu setia kepada Presiden. Soeharto tersenyum dan menimpali dengan bijak:
“Setia iku opo? (Setia itu apa?)”
Wismoyo kebingungan. Namun Soeharto kemudian menjelaskan, bahwa setia berarti memegang teguh kebersamaan untuk mencapai cita-cita, serta harus “pandai mengenal, melihat, mendengar, dan menganalisis.”
Dari pertemuan inilah benih hubungan pribadi dan profesional antara keduanya mulai tumbuh.
Asmara dengan Adik Ibu Tien
Hubungan Wismoyo dan Soeharto semakin dekat, bukan hanya karena urusan dinas, tetapi juga karena cinta. Wismoyo jatuh hati kepada Datit Siti Hardjanti, adik kandung Ibu Tien Soeharto. Cinta mereka tumbuh dalam diam, tanpa banyak orang tahu. Namun, ketika tiba saatnya melamar, Wismoyo justru dihadapkan pada situasi yang membuat lututnya lemas.
Ia harus melamar langsung kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien sosok yang bukan hanya orang tua sang kekasih, tetapi juga Kepala Negara dan atasannya dalam militer.
Lamaran yang Menegangkan
Hari itu tiba. Dengan sepatu bot yang telah ia poles hingga berkilau, Wismoyo datang ke rumah Cendana seorang diri. Namun sesampainya di tangga menuju ruang tamu, ia mendapati pemandangan mengejutkan deretan sandal dan sepatu yang dilepas para tamu.
Ia pun bimbang. “Masak saya melamar tanpa memakai sepatu,” batinnya. Akhirnya ia tetap memakainya, lalu melangkah ke dalam ruangan dengan hati berdebar.
Ternyata, semua orang di dalam ruangan tidak memakai alas kaki. Ibu Tien menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, membuat Wismoyo makin gugup.
"Wong lanang kok ingah-ingih (Lelaki kok tersipu-sipu),” ujar Ibu Tien, menggoda dengan senyum lembut.
Soeharto lalu ikut mencairkan suasana. Dengan tawa kecil, ia berkata,
"Aku mbiyen yo ingah-ingih (Dulu aku juga gugup),” mengenang masa saat melamar Ibu Tien.
Sontak tawa pun pecah, dan ketegangan seketika sirna.
Dengan keberanian yang tersisa, Wismoyo menyampaikan maksud hatinya: melamar Datit Siti Hardjanti. Cintanya diterima dengan hangat, dan dari situlah dimulai kisah rumah tangga yang harmonis antara perwira militer dan wanita Cendana itu.
Pelajaran dari Sang Pemimpin
Peristiwa kecil itu sangat membekas di hati Wismoyo. Dari Soeharto, ia belajar arti kepemimpinan sejati seorang pemimpin harus mampu menyelamatkan bawahannya dari rasa malu, bukan mempermalukan mereka.
Bagi Wismoyo, Soeharto bukan hanya mertua, tetapi juga teladan dalam hal ketegasan dan kebijaksanaan. Ia bahkan masih ingat bagaimana Soeharto berkata tegas saat membahas pemberontakan G30S/PKI:
“Saya ini tentara. Tentara itu pedoman hidupnya Saptamarga. Kami patriot Indonesia, pembela ideologi negara yang tak kenal menyerah. Melihat pemberontak komunis, sedangkan ideologi negara adalah Pancasila, ya saya harus melawan. Kalau kalah, saya akan memberontak.”
Sumber : Sindonews.com

