Pedagang Mardika Menangis: Pemkot Ambon Preman Berseragam

SPIONNEWS.ID MALUKU – Teriakan pedagang Pasar Mardika pecah di tengah deru alat bongkar milik Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Meja-meja jualan yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka diratakan tanpa ampun. Tak ada musyawarah, tak ada solusi hanya perintah dan kekuasaan yang berjalan tanpa hati.

Omen, seorang pedagang sayur yang sudah belasan tahun menggantungkan hidup di Mardika, tak mampu menahan air matanya saat melihat meja jualannya dihancurkan.

“Kami ini orang kecil, hidup dari hasil jualan harian. Pajak kami bayar, sewa lapak juga kami lunasi. Tapi meja kami tetap dibongkar. Apa pemerintah sudah tak punya hati nurani?” ujarnya pilu ke awak media (31/10/2025)

Bagi para pedagang, tempat itu bukan sekadar lapak, tetapi nadi kehidupan. Dari sanalah mereka membiayai anak sekolah, membeli beras, dan bertahan hidup di tengah ekonomi yang kian sulit. Namun, sikap Pemkot Ambon seolah tak peduli bahkan bertindak seperti penguasa jalanan yang mengandalkan kekuatan, bukan keadilan.

Mato, pedagang lainnya, menyebut tindakan pemerintah kota sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.

“Katanya mau bantu ekonomi rakyat, tapi yang mereka lakukan justru menghancurkan ekonomi kami. Pemerintah ini bukan datang membawa solusi, tapi datang membawa bencana. Mereka seperti preman berseragam,” ucapnya penuh amarah.

Aksi pembongkaran lapak di Mardika pasar Arumbai menjadi bukti nyata bahwa kebijakan Pemkot Ambon semakin jauh dari rakyat. Di tengah janji politik Wali Kota Bodewin Wattimena yang dulu menggembar-gemborkan keberpihakan terhadap pedagang kecil, kini yang tersisa hanyalah retorika kosong tanpa realisasi.

Pedagang berharap suara mereka didengar, bukan dipukul mundur dengan kekuasaan dan arogansi.

“Kami tidak minta belas kasihan, kami cuma ingin dihargai sebagai manusia yang juga warga kota ini,” kata Omen lirih sambil memungut sisa papan meja jualannya yang berserakan.

Kini, Pasar Arumbai Mardika tidak lagi ramai dengan tawa dan tawar-menawar. Yang tersisa hanya jeritan pedagang suara perlawanan kecil yang menggema di antara puing lapak dan janji-janji politik yang hancur di bawah kaki kekuasaan.(*)

Editor : EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *