
- Pelantikan Ir. H. La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, MT. IPU Sebagai Sultan Buton Ke XLI (41), Berlangsung Dengan Tertib, Aman Dan Damai.
SPIONNEWS.ID, Baubau – Penobatan dan Pelantikan Sultan Buton ke 41 (XLI), dihadiri oleh para pejabat Kota Baubau, semua berjalan dengan tertib, aman dan damai.
Proses pelantikan tersebut dimulai dari penjemputan Calon Sultan Buton dari kediaman tempat tinggalnya di Kamali Baadia menuju ke Masjid Agung Keraton Buton, dikawal dengan berbagai arak-arakan para Tokoh Adat Buton yang menggunakan Pakaian Adat Kebesaran Buton.
Sesampai di Masjid Keraton Buton, Calon Sultan Buton dan beberapa Bonto duduk bersama dan mempersiapkan Calon Sultan Buton ke 41 untuk menuju ke tempat Pelantikan Sultan Buton di Batu Popaua, untuk mengambil sumpahnya.

Menurut hasil pantauan wartawan spionnews.id di lokasi tersebut terpantau, dalam proses Penobatan dan Pelantikan Sultan Buton ke 41 pada Jumat (18/10/24), cukup ramai. Pasalnya, nampak terlihat ada beberapa Tokoh Adat Buton, Pejabat Propinsi Sultra dan para perwakilan Sultan se Sulawesi turut hadir beserta masyarakat Kota Baubau dan kabupaten sekitarnya untuk menyaksikan secara langsung proses pelantikan Ir. H. La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, MT. IPU sebagai Sultan Buton ke 41 dalam Benteng Keraton Buton.

Dalam kegiatan itu, Pj. Gubernur Sulawesi Tenggara, Andap Budhi Revianto, menyampaikan; “Terkait Pelantikan Sultan Buton. Kita mengambil keputusan yang tepat untuk masyarakat di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya di Wilayah Kesultanan Buton,” imbuhnya.
Lanjutnya, semoga dengan kegiatan ini, kita semua menerima syafaat-Nya dari Yang Maha Kuasa, amin amin ya Allah.
Kata Andap Budhi Revianto, Pelantikan Sultan Buton yang ke 41. Menjadi salah satu simbol dari falsafah Buton yaitu Pobinci Kuli, dimana dalam simbol ini ada beberapa makna.
“Pertama, Pomaamasiaka yang artinya saling sayang menyayangi. Kedua, Popia-piara artinya pelihara atau rawat, pengertiannya saling memelihara, saling merawat atau saling mengayomi,” ujarnya.
Sambungnya, Ketiga, Pomaemaeaka, artinya rasa malu, maknanya saling menanggung rasa malu, jika melakukan perbuatan tercelah yang malu bukan saja yang bersangkutan tapi seluruh keluarga, orang tua dan komunitas akan turut merasa malu.
“Keempat, Poangka-angkataka, artinya saling mengangkat martabat, saling menghormati, saling menghargai,” ucapnya.
Menurutnya, semua itu tertuang dalam satu kata, Pobinci binciki kuli. “Binci berarti cubit kuli: kulit, binciki kuli, cubit kulit pengertiannya cubit dirinya sendiri, bila kita rasa sakit, maka janganlah kita mencubit orang lain,” tegasnya. (*)

Liputan : Bardin Wally


Editor : Harry & Rusly, S.Mn. (RAL)

