Bahasa Wolio Hampir Punah, Balai Bahasa Adakan Refitalisasi

SPIONNEWS, Batauga – Sebagai bentuk melestarikan budaya yang ada di wilayah kepulauan Buton khususnya di kabupaten Buton Selatan bahasa Wolio yang hari ini terbilang bahasa daerah yang cukup langka karena beberapa generasi tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian.

Dalam rangka melestarikan bahasa Wolio di tingkat generasi, maka beberapa guru diundang untuk meningkatkan mutu pendidikan dan melestarikan pengembangan budaya lokal maka balai bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan revitalisasi bahasa Wolio yang terancam punah.

Ketika dikonfirmasi Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton Selatan La Ode Haerudin, S.Pd, M.Pd, mengatakan “Bahasa Wolio dari sisi penuturannya untuk sekarang, boleh di kata dari sisi bahasa, pengguna bahasa Wolio, hanya di wilayah Baubau, adapun yang dari luar-luar itu, pada perangkat Kesultanan, sehingga dari pihak balai bahasa, maka mereka melakukan penelitian, bahasa Wolio terancam punah” tuturnya.

Ia menambahkan, Sehingga pihak Balai bahasa, mereflitasi tentunya kami dari pihak kebudayaan, merasa bertanggung jawab, dan kami mengapresiasi kegiatan tersebut, karena hal itu sangat bagus untuk menyelamatkan bahasa Wolio.

“Dibandingkan dengan bahasa cia-cia dan pancana, untuk bahasa cia-cia digunakan oleh pasar Wajo sebagian Sampolawa, Kecamatan Lapandewa dan Kecamatan Batuatas itu, mengunakan bahasa ciacia. dalam keseharian, dan Kecamatan Batauga , seperduanya masyarakat menggunakan bahasa Wolio, sehingga penyebarannya cukup sedikit” ucapnya, di Kantor Bupati Buton Selatan, Kamis, 19/6/2025.

Kepala Dinas mengungkapkan untuk selain daripada itu di luar Pulau Buton lebih banyak menggunakan bahasa cia-cia dari pada bahasa Wolio, kita ambil sampel saja di Ambon kebanyakan di sana menggunakan bahasa cia-cia, bukan bahasa Wolio tapi sesungguhnya bahasa beliau diambil sebagai bahasa nasional atau bahasa kenegaraan di zaman Kesultanan Buton.

“Sehingga apresiasi yang cukup, kami berikan kepada balai bahasa, untuk bisa menyelamatkan bahasa Wolio, tentunya selama kurang lebih 4 hari berada di villa Amirul, sebagai bukti, balai bahasa termasuk Pemerintah Kota Baubau juga menyambut baik hal tersebut” ucapnya.

“Kami juga selaku pemerintah Busel dalam hal ini, mengirim gurunya kita sebanyak 20 orang mewakili Dinas Pendidikan dan alhamdulillah sinergi, dan kerja bersama antara Dinas Pendidikan Dinas Kebudayaan termasuk pemerintah secara umum, turut menyambut baik adanya kegiatan tersebut” terangnya.

Pihak Dlinas mengungkapkan jadi nantinya edukasi, aktif guru-gurunya yang nantinya berimbas pada guru-guru yang lain, terlepas dari guru utama ini, yang akan memberikan kepada guru-guru terutama yang ada di sekolah-sekolah, terutama kepada siswa, sehingga bisa menambah penyebaran bahasa Wolio.

“Semoga dari kegiatan ini bisa, pasti ada outputnya, apa kamu mungkin nanti berupa cerita rakyat, yang menggunakan bahasa Wolio” tegasnya. (Ha)

Editor : Harry

Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1446 H / 2023 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *